![]() |
Artikel |
|||||||
ARTIKEL / INFORMASI |
|
| Link : | Tidak Ada 'kohe' Kompos pun Tetap Jadi
|
| www.infoorganik.com | |
| www.agribisnisganesha.com |
Cuplikan pernyatan salah seorang pejabat di Harian Umum 'Pikiran Rakyat' pertengahan bulan agustus 2008 lalu yang sebenarnya samasekali tidak ada manfaat dan faedahnya : "Salah satu kesulitan dalam mewujudkan pertanian organik di Indonesia adalah menjadikan kompos sebagai pupuk organik. Sebab, kotoran hewan diperlukan untuk memprosesnya. .......dst". Sedangkan di kolom yang sama pada koran tersebut saya menyatakan "Bercocok tanam secara organik itu sangat mudah dan logis.......dst". Tentu reaksi yang dididapatkan dari pernyataan saya di koran tersebut adalah adanya beberapa orang yang menghubungi via telepon dan ingin bertemu langsung karena ketertarikan dan bersemangat dengan pernyataan 'kemudahan' yang saya lontarkan. Mereka rata-rata jadi ingin mengetahui dan tertarik dengan cara bertani organik ini. Tetapi reaksi untuk pernyataan pertama, saya menebak bahwa orang yang membacanya akan menjadi malas untuk mencoba beralih ke pertanian organik, akan turun semangatnya karena belum apa-apa sudah ada yang menyatakan pertanian organik sulit diwujudkan apalagi yang menyatakan dari kalangan pejabat yang dipandang sebagai 'tokoh'..
Namun untuk kalangan yang mengerti mengenai konsep pertanian organik secara komprehensif pernyataan pertama ini bisa dinilai sebagai suatu 'ketidakmengertian', tapi juga bisa jadi sebagai suatu 'pembodohan' kepada masyarakat terlepas dari bentuk pertanyaan yang dilontarkan oleh wartawan kepada yang bersangkutan. Sudah sangat jelas bahwa kompos ini dalam pembuatannya atau terjadinya adalah dari proses pembusukan dan dekomposisi bahan-bahan organik artinya cukup diperlukan bahan organik dari apapun, dan pengurainya yaitu mikroorganisma atau bakteri pengurai. Jenis bahan organik inilah yang nantinya akan menentukan cepat lambatnya proses dekomposisi dan kualitas kompos yang dihasilkan. Jadi bagaimana asal mulanya pernyataan bahwa proses pengkomposan memerlukan kotoran hewan yang konotasinya bahwa pengkomposan 'harus' menggunakan kotoran hewan perlu dipertanyakan. Kalau dinyatakan bahwa proses pengkomposan dengan salah satu komponen bahan organiknya adalah kotoran hewan akan mempercepat proses pengkomposan, ini barulah sangat logis dan mudah dimengerti karena di kotoran hewan sudah cukup banyak kandungan mikroorganisma atau bakteri pengurainya dan bahan organiknya sudah melalui proses penguraian juga di dalam lambung hewan sehingga menjadi lebih halus. Kemudian lagi-lagi kalau dipikirkan secara sederhana juga, kotoran hewan ini merupakan sisa atau ampas dari makanan hewan yang diproses di dalam lambung hewan sekitar 24 jam-an dan cukup bisa dibedakan dengan proses terjadinya perkembangan daging, susu atau lainnya. Jadi kotoran hewan tidak akan jauh berbeda dengan bahan dasarnya yang masuk ke perut hewan kecuali saripatinya saat keluar dari tubuh hewan sudah sangat jauh berkurang dibandingkan waktu saat masuk. Dengan demikian untuk mendapatkan bahan organik yang 'agak mirip' dengan kotoran hewan sebenarnya bisa dicoba direkayasa juga walaupun tentu tidak akan secepat proses pencernaan hewan. Untuk mencobanya cukup memakai tong plastik yang diisi air biasa, lebih baik lagi air kolam karena populasi bakterinya sudah tinggi. Kemudian gunakan daun atau rumput yang mudah busuk, misalnya daun kipait yang biasanya tumbuh liar di pinggir-pinggir jalan yang dimasukkan ke dalam karung lalu karung ini di rendam dalam air di tong ini. Untuk menambah jumlah bakteri di tambahkan mikro organisma lokal atau bahasa dagangnya effective micro organism yang bisa dari hasil perbanyakan sendiri ataupun dari membeli. Setelah disimpan dalam keadaan tertutup sekitar seminggu maka daun kipait dalam karung ini menjadi seperti kotoran sapi baik bentuk maupun baunya, sedangkan airnya menjadi seperti urine sapi. Jadi kalau membuat komposnya merasa lebih afdol dengan adanya bahan kotoran hewan tetapi tidak punya hewannya, ya tinggal produksi kotoran hewan buatan saja sendiri walaupun tentunya tidak akan sama persis dengan yang dihasilkan oleh hewan. Jadi tidak perlu ada pernyataan sulit atau apapun untuk menuju pertanian organik selama tanah kita ini masih bisa jadi tempat tumbuhnya tanaman. Lalu apakah pupuk organik ini memang hanya sekedar berupa kompos seperti pernyataan di atas ? Menjadi semakin tidak berdasar pernyataan sulitnya mewujudkan pertanian organik di Indonesia kalau mengacu kepada masalah alam tetapi kalau mengacu kepada mental manusia-manusia yang terlibat di bidang pertanian ini baru bisa dipercaya..........
Utju Suiatna
Ganesha Organic SRI
|
| www.ganeshabizniz.com | |